Friday, December 16, 2011

Kisah keluarga yang semuanya lumpuh



keluarga_lumpuh
 Ibu ini merawat dan memelihara empat anak dan suaminya yang lumpuh selama puluhan tahun seorang diri.

Bayangkan kalau semua anak anda menderita lumpuh. Tentu, anda akan sangat bingung dengan masa depan mereka. Di Purwakarta, ada seorang ibu yang bukan hanya empat anaknya yang lumpuh. Melainkan juga, suami yang menjadi tulang belakang keluarga. Allahu Akbar.

Hal itulah yang kini dialami oleh Atikah, seorang ibu usia 70 tahun.   Di rumahnya yang sederhana, dia dan keluarga lebih banyak berbaring daripada beraktiviti layaknya keluarga besar.

Mak Atikah bersyukur kerana boleh  menikah dengan seorang suami yang alhamdulillah baik dan rajin. Walau hanya sebagai pencari rumput, Mak Atikah begitu menghargai pekerjaan yang dibuat suaminya. Bahkan, tidak jarang, ia membantu sang suami ikut mencari rumput.

Beberapa bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 1957, Allah mengurniakan Mak Atikah dengan seorang putera. Ia dan suami begitu gembira. Diberikan nama puteranya Entang.
Mulanya, Entang membesar normal. Biasa-biasa saja layaknya anak-anak lain. Baru terasa beda ketika anak sulung itu berusia 10 tahun.
Waktu itu, Entang demam panas. Bagi Mak Atikah dan suami, anak sakit panas sudah menjadi hal biasa. Apalagi tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari pelayanan medis. Entang pun dibiarkan sakit panas tanpa ubat.

Panas yang diderita sang anak ternyata semakin parah. Tiba-tiba, Entang merasakan kalau kakinya tidak boleh digerakkan. Setelah dicuba beberapa kali, kaki Entang memang benar-benar lumpuh.

Musibah ini ternyata tidak berhenti hanya pada si sulung. Tiga adik Entang pun punya gejala sakit yang sama dengan abangnya. Dan semuanya sakit di usia  kira-kira antara 7 sampai 10 tahun. Satu per satu, anak-anak Mak Atikah menderita lumpuh.

Usul punya usul, ternyata anak-anak yang tinggal di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta itu sebahagian besar terserang penyakit polio. Tapi, semuanya sudah serba terlambat. Lagi pula, apa yang boleh dilakukan Mak Atikah dengan suami yang hanya seorang pencari rumput.

Sejak itu, Mak Atikah mengurus empat anaknya sekaligus seorang diri. Dengan pendapatan   yang begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan, keluarga ini mengarungi hidup puluhan tahun dengan kesibukan anak-anak yang lumpuh.

Ujian Allah buat Mak Atikah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 90-an, giliran suami Bu Atikah yang mengalami musibah. Tatkala mencari rumput, Pak Didin terjatuh. Orang-orang sekitar pun menggotong Pak Didin pulang. Dan sejak itu, Pak Didin tidak boleh lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia cuma boleh berbaring.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan  keluarga kalau sang suami tidak lagi boleh  berkerja. Bu Atikah pun tidak mau diam. Kalau selama ini ia hanya boleh mengurus anak-anak di rumah, sejak itu, ibu yang waktu itu berusia hampir enam puluh tahun pun menggantikan sang suami dengan pekerjaan yang sama. Di usianya yang begitu lanjut, Bu Atikah mengais rezeki dengan mencari rumput.

Sehari-hari, ia berangkat pagi menuju tanah-tanah kosong yang dipenuhi rumput. Ia kumpulkan rumput-rumput itu dengan sebilah arit, kemudian dibawa kepada pemesan. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah ia kumpulkan  se hari dari mencari rumput. Dan itu, ia gunakan untuk mengepulkan asap dapur rumahnya. Hanya sekadar menyambung hidup.

Di bulan Mei tahun ini, sang suami yang hanya boleh berbaring dipanggil Allah untuk selamanya. Kini, tinggal Mak Atikah yang mengurus keempat anaknya yang tidak juga sembuh dari lumpuh.

Allah menguji hambaNya dengan sesuatu yang mungkin sulit untuk dicerna pikiran orang lain. Subhanallah.
http://wajibbaca.com (telah diubahsuai)

No comments:

Post a Comment