Teroris anti-multikulturalisme itu mengikuti al Qaeda sejak 2006 hingga 2011. Ia memperlajari strategi-strategi jaringan teroris tersebut untuk merencanakan serangan-serangannya.
Ia juga mendapat idea memakai seragam polis ketika melancarkan aksi pembantaian di Pulau Utoya kala itu setelah membaca majalah online al Qaeda khas untuk para pengikutnya. Idea serangan juga datang dari film dokumenter tentang konflik di Irak dan Afghanistan.
"Teroris yang paling sukses adalah al Qaeda. Mereka melakukan tindakannya untuk menjadi martir. Itu adalah kunci keberhasilan sebuah perlawanan," katanya, seperti dikutip CNN.
Dan saat jaksa bertanya apakah tak memiliki rasa empati terhadap orang lain, ia dengan tenang menggambarkan bagaimana perjuangannya mematikan emosi melalui meditasi. "Anda bisa bilang saya cukup normal sampai 2006, sebelum saya mulai pelatihan," ujarnya.
"Ini tentang kekejaman, tindakan barbar Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang harus orang lain dengar. Saya telah mencoba untuk menjauhkan diri dari itu," katanya mengenai tindakannya sendiri.
Breivik terdorong melakukan kekerasan karena merasa gagal melakukan upaya damai melawan multikulturalisme di negaranya. "Saya telah mencoba semua cara damai. Saya mencoba melibatkan diri secara politik, menulis esai. Saya pribadi merasa sia-sia. Maka hanya ada satu kemungkinan, yaitu kekerasan," ujarnya.
sumber
No comments:
Post a Comment