Sunday, August 4, 2013

Makan daging manusia demi kesaktian


 4 Ogos 2013
Mohammad Arif Ali, salah-seorang pelaku kanibalisme.
Dua orang lelaki di Pakistan mencuri mayat manusia dari kubur  dan mengolahnya menjadi kari sebelum melahapnya demi mendapatkan kesaktian.
Mahkamah di   Punjab, Pakistan, telah menghukum penjara Mohammad Ali Farman dan Mohammad Arif Ali selama dua tahun kerana alasan merosak kubur .
Warga kota Dayha Khan, yang berjarak sekitar 200km dari ibu kota Pakistan, Islamabad ini tidak terbukti melakukan pembunuhan, kerana kanibalisme tidak diatur dalam aturan hukum negara itu.
Penyiasatan  polis  setempat menyimpulkan, dua bersaudara ini mempraktikkan kanibalisme setelah bertemu seorang dukun lokal yang sebelumnya pernah ditangkap kerana mencuri mayat dari kubur .
Dukun itu mengharuskan dua bersaudara itu makan daging manusia jika ingin mendapatkan kesaktian, kata Inspektor Polis  Fakhar Bhatt, yang menangani kes kanibalisme ini.
"Agar mantranya menjadi, mereka harus menyantap daging manusia," kata Bhatt.

Mayat hilang

Kes kanibalisme ini mulai terkuak ketika seorang perempuan berusia 24 tahun, Saira Parveen, meninggal kerana kanser tenggorokan dan disemadikan oleh keluarganya.
Keesokan paginya, beberapa kerabat keluarga almarhumah mengunjungi kuburannya dan menemukan ada bekas galian di atasnya.
"Kami kemudian menggali kuburannya, dan sungguh mengerikan kerana jasad Parveen lenyap," kata Aijaz Hussain, saudara perempuan almarhumah.

Penyiasatan polis  kemudian mengarah pada kediaman Ali bersaudara.
"Kami menggerebek rumah tersebut dengan ditemani beberapa tokoh masyarakat," kata Inspektor Fakhar Bhatti, anggota polis yang memimpin penyiasatan kes ini.

"Arif ketika itu sedang tidur di kamarnya. Hanya ayahnya dan salah seorang kakaknya ada di sana. Sementara Farman tidak ada di tempat. Kami kemudian melakukan pencarian di rumah itu, dan meminta kunci kamar Farman yang terkunci."
Ketika mereka membuka ruangan itu, aroma daging busuk langsung menyeruak.

"Di tengah-tengah ruangan, saya melihat periuk yang berisi daging kari.   Dekatnya ada papan kayu, kapak serta pisau berukuran besar. Ada sisa-sisa lemak menempel di papan dan kapak. "
Penyiasatan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti iring-iringan semut, yang berakhir di bawah tempat tidur.
"Kami mengikuti iring-iringan semut itu. Ada beberapa karung pampers di bawah tempat tidur. Kami menariknya keluar, dan di dalam karung goni itu kami menemukan potongan tubuh manusia," kata Inspektur Bhatti.

Bertahun-tahun


Di dalam rumah tertuduh, polis  menemukan potongan daging manusia di dalam karung guni.
Dari hasil interogasi  polis , dua bersaudara itu mengaku telah menggali dan melahap beberapa mayat lainnya dari komplek kuburan setempat.

Mereka juga mengatakan telah melakukan praktik kanibalisme selama beberapa tahun.
Sejumlah orang yang pernah berhubungan dengan Farman Ali kurang yakin dengan anggapan yang menyatakan bahawa mereka mengalami gangguan kejiwaan.

Tanvir Khwawar, warga lokal yang mengaku pernah satu sekolah dengan mereka selama 10 tahun.
"Dia cerdas dan mampu sekolah sampai tingkat 10," kata Tanvir.
"Tapi setelah kelas 10, dia berhenti sekolah, dan semakin terpencil. Kita jarang bersua setelah itu."
Dua bersaudara itu diketahui telah menikah dan punya anak. Namun mereka berpisah dengan isterinya masing-masing sebelum mereka ditangkap.

Para mantan isteri mereka, seperti ditirukan Inspektor Bhatti, mengaku mengeluhkan perilaku suaminya yang tidak bekerja, dan kerap mengunci mereka berjam-jam di dalam rumah ketika mereka pergi keluar.

Saudara perempuan yang dulu tinggal dengan mereka menderita gangguan jiwa dan ditemukan tenggelam di sebuah kanal beberapa hari setelah mereka ditangkap.
Dua beradik ini tidak pernah mendapat bimbingan psikiater untuk gangguan psikologi.

Peguam mereka Rao Hussain mengatakan tugasnya adalah memastikan keduanya mendapat hukuman penjara rendah dan dia berhasil melakukannya.
"Mereka tidak gila, mereka hanya bodoh," kata Rao.

Mohammad Arif Ali, the younger of the Ali brothers, at the abandoned family house in Khwawar Kalan village, Darya Khan 
 What Mohammad Arif Ali and his brother did shocked Pakistan

Wali Deen, uncle of Mohammad Farman Ali and Mohammad Arif Ali 
 Wali Deen insists that his nephews are not cannibals

No comments:

Post a Comment