Friday, August 2, 2013

Remaja 11 tahun mengaku dipaksa menikah, kini diragukan

1 Ogos 2013 
Nada al-Ahdal, gadis Yaman usia 11 tahun yang menyatakan dalam sebuah video di YouTube bahawa dia telah dipaksa untuk menikah oleh orang tuanya sendiri. | CNN
 
Jutaan pemirsa YouTube pada sekitar pertengahan Julai dikejutkan sebuah video yang menyayat hati dari seorang gadis Yaman berusia 11 tahun yang mengaku bahawa dia telah melarikan diri dari rumah demi menghindari perjodohan yang diatur orangtuanya sendiri.

Namun, kini muncul keraguan tentang keaslian pengakuan Nada al-Ahdal, nama gadis belia itu, yang menyatakan dia boleh lolos dari pernikahan paksa tersebut setelah bapa saudaranya campur tangan.

Menurut laporan CNN, Rabu (31/7/2013), kelompok hak asasi anak-anak terkemuka Yaman, Seyaj, sekarang percaya ada bahagian dari cerita gadis itu yang dikarang, dan orangtuanya telah menegaskan bahawa mereka tidak pernah bermaksud menikahkannya.

Namun, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung tegang di mana Nada berhadapan dengan orangtuanya, gadis itu sambil menangis bertanya kepada seorang mediator, Presiden Perempuan Yaman, Ramzia Al-Eryani, "mengapa kalian percaya mereka dan tidak percaya padaku?" Dalam dialog pada pertemuan itu yang terakam kamera CNN, Al-Eryani berkata, "kami perlu melindungi anak ini." Dia menambahkan, "saya tidak peduli tentang apa yang terbaik buat ibu atau ayah ataubapa saudara , (kami) hanya (peduli pada) apa yang terbaik buat si gadis."

Setelah pertemuan tersebut, di mana Nada dan bapa saudaranya mempertahankan bahawa cerita gadis itu benar adanya, sebuah kesepakatan dicapai, yaitu bahawa Nada, orangtua, dan bapa saudaranya akan tinggal bersama. Al-Eryani telah ditunjuk sebagai wali sementara Nada sampai sengketa tersebut diselesaikan.

Ahmad Algorashi, Presiden Seyaj, mengatakan, Sabtu lalu, bahawa organisasinya tidak percaya orangtua Nada telah mencuba memaksa gadis remaja itu untuk menikah. Pandangan yang sama juga disampaikan Perserikatan Perempuan Yaman.

Drama itu menyusul peluncuran sebuah video, yang bertanggal 8 Julai dan difilmkan oleh salah satu teman gadis itu, yang memperlihatkan Nada mengatakan ke arah kamera. "Silakan jodohkan saya, saya akan bunuh diri. Apakah mereka tidak punya belas kasih? Saya lebih baik mati. Saya pilih mati."

Gadis itu melanjutkan, "ini bukan kesalahan (anak-anak). Saya bukan satu-satunya. Hal ini dapat terjadi pada setiap anak. Beberapa anak memutuskan untuk menceburkan diri mereka ke laut, mereka kini sudahmati . Mereka telah membunuh impian kami, mereka telah membunuh segala sesuatu di dalam diri kami. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada pendidikan. Ini kriminal, jelas ini kriminal."

Dalam video yang difilmkan di kereta itu, dia menjelaskan mengapa dirinya tidak ingin tinggal bersama keluarganya. Ia mengatakan, "saya tidak akan punya kehidupan, tidak punya pendidikan. Saya lari dari pernikahan," katanya kepada CNN dalam sebuah wawancara setelah video itu dilihat jutaan kali di YouTube. "Saya lari dari kebodohan. Saya lari dari kemungkinan akan dibeli dan dijual."

Murid sekolah itu, yang memiliki tujuh saudara, telah tinggal bersama pamannya, Abdel Salam al-Ahdal, ketika dia berusia tiga tahun.

Berdasarkan versi bapa saudaranya, kisah perjodohan itu bermula ketika seorang ekspatriat yang tinggal di Arab Saudi bertanya kepada orangtua remaja itu apakah dia boleh menikahi remaja tersebut. Orangtuanya dikatakan langsung setuju. Namun, rencana itu gagal setelah bapa saudara mengintervensi.

Lepas dari apakah klaim Nada benar atau hanya mengada-ada, praktik menikahi gadis-gadis muda lumrah terjadi di Yaman. Hal itu telah menarik perhatian kelompok hak asasi internasional yang berusaha menekan pemerintah untuk melarang pernikahan anak.

Kemiskinan yang mencengkeram Yaman berperan dalam menghambat usahaa untuk membasmi praktik tersebut kerana keluarga-keluarga miskin tidak mampu menolak maskawin bernilai ratusan dollar buat anak-anak perempuan mereka.

Mail Online, yang mengutip laporan tahun 2011 Departemen Sosial negara itu, melaporkan, lebih dari seperempat perempuan Yaman menikah sebelum usia 15 tahun.
Adat istiadat suku-suku di wilayah itu juga berperanan, termasuk keyakinan bahawa pengantin muda dapat dibentuk menjadi seorang isteri yang patuh, melahirkan lebih banyak anak, dan dijauhkan dari godaan.

No comments:

Post a Comment