Para staf
Mahkamah hak asasi manusia (HAM) Kamboja, ECCC, yang mengadili mantan
anggota Khmer Merah, mengancam mogok mulai Minggu (1/9) kerana gaji
mereka belum dibayar sejak Jun lalu.
Sedikitnya 100 staf yang
bekerja membantu jalannya proses peradilan itu, menyatakan akan memulai
aksinya akhir minggu. Aksi ini dikhawatirkan mengganggu jalannya
persidangan atas dua bekas pemimpin Khmer Merah, Nuon Chea dan Khieu
Samphan. Peradilan atas dua tokoh rekan Pol Pot ini sudah memasuki tahap
akhir.
Masalah kurangnya dana juga mendapat perhatian Sekjen PBB Ban Ki-moon yang memperingatkan kemungkinan peradilan HAM ini akan bubar.
Jurucakap mahkamah HAM Kamboja Neth Pheaktra menjelaskan, 100 dari 250 staf
yang belum dibayar gajinya sejak Jun lalu, akan mogok kerja mulai
Minggu 1 September.
"Jika
tidak akan penerjemah, atau seksi lainnya tidak bekerja, itu berarti
ECCC tidak akan berjalan. Risiko terberatnya adalah menunda peradilan
kes orang nombor 2 Khmer Merah," kata Pheaktra kepada ABC. "Kami tidak
mau hal itu terjadi, tapi tidak ada pilihan lain kerana kami tidak
mungkin bekerja tanpa digaji".
Sejak
dibentuk tahun 2006, ECCC sudah mengalami kesulitan dana secara rutin.
Sejauh ini donor terbesar diperoleh dari Australia, Jepun dan Persatuan
Eropa. ECC memerlukan 3 juta dollar untuk tahun anggaran 2013 ini.
Jurucakap Pemerintah Kamjoa Keo
Remy ketika dikonfirmasi ABC, menolak berkomentar atas situasi ini.who
accompanied Mr Scheffer, declined to talk to Radio Australia about the
situation.
Photo: Khieu Samphan, mantan orang kuat Khmer Merah, saat muncul di pengadilan HAM Kamboja, 3 July 2009. (Tang Chhin Sothy: AFP)
Dua
terdakwa dalam pengadilan ECCC ini, Saudara Nomor 2 Nuon Chea (87) dan
mantan kepala pemerintahan Khmer Merah, Khieu Samphan (82), membantah
tuduhan sebagai penjahat perang, pelaku genosida dan kejahatan atas
kemanusiaan.
Khmer Merah
berkuasa di Kamboja tahun 1975 hingga 1979, dipimpin Saudara Nomor 1 Pol
Pot yang meninggal tahun 1998. Rezim ini bercita-cita menciptakan
Kamboja yang makmur, namun telah mengakibatkan tewasnya hampir
seperempat populasi negara itu.
Sumber: ABC Radio Australia
No comments:
Post a Comment