23/8/14

NOEL CELIS / AFP
Seorang lelaki duduk berdoa di pusara keluarganya yang terbunuh akibat bencana Topan
Haiyan yang menhantam wilayah tengah Filipina November lalu. Sejauh
ini, pemerintah Filipina menyebutkan lebih dari 6,000 orang dinyatakan meninggal akibat bencana tersebut.
Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam rilis terbarunya mengatakan lebih dari 7.4 juta warga Filipina
masuk dalam kategori miskin. Pemicunya adalah rentannya ketahanan
pangan dan kontraksi perekonomian di Filipina. Laporan ADB itu bertajuk
Indikator Kunci untuk Asia Pasifik pada 2014.
ADB dalam kesempatan itu meminta pembaruan batas penghasilan per
kapita per hari 1.25 dolar AS untuk mengukur angka kemiskinan sejatinya
sudah tidak sesuai. Pasalnya, angka itu berangkat dari penghitungan di
Afrika.
Warta AP pada Jumaat (22/8/2014) menunjukkan pemicu melonjaknya warga
miskin lantaran hantaman topan Haiyan pada November tahun silam. Jumlah
warga yang menjadi miskin gara-gara topan itu sejatinya hanya 1.5 juta
dari angka 7.4 juta tadi. Selisihnya adalah warga yang masuk dalam
kategori miskin akibat kontraksi perekonomian Filipina.
Catatan ADB menunjukkan, Haiyan membuat 4 juta warga Filipina kehilangan tempat tinggal. "Topan Haiyan memang berisiko tinggi," kata pernyataan ADB.
Krisis perekonomian di Filipina, menurut ADB, juga berangkat dari
tingginya tingkat pengangguran, pemotongan jam kerja dan upah, inflasi,
serta pemotongan fasiliti pemerintah untuk rakyat miskin.
Sementara itu, secara umum, masih menurut refleksi ADB, pada
1997-1998, krisis perekonomian Asia membuat angka kemiskinan di
Indonesia naik menjadi 8.9 persen. Di Filipina, angka itu menyentuh 9
persen.
sumber:TRIBUNNEWS.COM
No comments:
Post a Comment