22/12/14
Pawai militan ormas Hindu radikal di India. ©AFP
Organisasi
massa radikal Vishva Hindu Parishad (VHP) di Negara Kerala,
India, dipercayai kembali memaksa penganut agama minoriti pindah agama.
Kini giliran umat Kristian yang diminta memeluk Hindu, bila keluarganya
tak ingin disakiti.
Dilaporkan Hindustan Times, Isnin (22/12), pemaksaan itu menimpa 30
keluarga Kristian di Daerah Alppuzha jelang perayaan Natal. Warga Hindu
setempat mengadakan pesta Ghar Wapsi, lalu dilaporkan memaksa mereka
pindah keyakinan.
Presiden VHP Sektor Alppuzha G. Prathap menolak bila anak buahnya
disebut memaksa umat minoriti pindah agama. Dia mengklaim tiga puluh KK
ini memeluk Hindu kerana tercerahkan.
"Tidak ada wang atau imbalan apapun untuk pilihan mereka memeluk Hindu," ujarnya.
Tapi Parti Kongres selaku oposisi menemui bukti valid telah
terjadi pemaksaan agama secara sistematik. Apalagi VHP di Negara
Gujarat selang sehari sebelumnya juga teah memaksa 225 orang memeluk
Hindu.
Pemimpin Parti Kongres Digvijay Singh mempersoalkan pula pernyataan
VHP yang seakan boleh mensasarkan akan ada 150 orang Kristian yang pindah
agama.
"Kubu sayap kanan radikal sedang menunjukkan taring mereka," kata Singh.
Awal bulan ini, VHP dan sayap ormas Hindu garis keras Bajrang Dal
sudah dikecam oleh umat muslim. Dilaporkan 300 muslim di Agra dipaksa
pindah agama dengan iming-iming kupon makanan percuma.
Wilayah dekat Taj Mahal itu kebetulan dihuni cukup banyak populasi
umat Islam. Kerana melibatkan kupon, dipercayai pemerintah daerah terlibat
dalam pemaksaan agama ini.
VHP adalah ormas di bawah Parti Bharatiya Janata (BJP) yang kini
menguasai India. Perdana Menteri Narendra Modi merupakan tokoh panutan
ormas tersebut.
Modi sampai sekarang belum memberikan komentar atas segala tuduhan
pada ormas yang dia bina itu. Mantan Menteri Utama (setara Gubernur)
Gujarat ini punya noda besar soal intoleransi beragama. Saat menjabat
pada 2002, dia diyakini membiarkan pecah kerusuhan antara umat Hindu dan
Islam. Hasilnya, lebih dari seribu muslim meninggal.
sumber: Merdeka.com
No comments:
Post a Comment