
Net
Gambar hiasan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -
Tidak ada seorangpun yang menduga, bahawa seorang suami yang bahagia,
akhirnya memilih untuk mati melalui suntikan mati atau yang lebih
dikenal euthanasia.
Andre Verhoeven, mengakhiri masa lajangnya di
sebuah gereja Katholik, di sebuah kota bersahaja di Selatan Amsterdam,
Belanda. Ia bekerja sebagai guru yang sangat dihormati.
Ia telah
merancangkan hidupnya dengan begitu baik. Ia merancang bersara di usia
65 tahun, lalu berkeliling dunia bersama isterinya, Dora.
Akan
tetapi nasib baik tak berpihak kepadanya, ia didiagnosis menderita
leukemia akut, kanser darah, yang saat ini belum ada ubatnya. Penyakit
itu dengan kejam menggrogoti tubuh tuanya, sehingga Verhoeven menjadi
lumpuh dari leher ke bawah tubuhnya.
Di usianya yang 64 tahun,
Vehoeven dibawa ke rumah perawatan. Kondisinya sangat memprihatinkan,
bahkan untuk mengangkat cakir ke bibirnya ia tidak mampu.
Dia
harus meminta pertolongan jururawat ketika ia memerlukan sesuatu,
menggunakan sebuah loceng yang diikat di lehernya. Doktor mengatakan
bahawa kondisi itu akan ia bawa sepanjang hidupnya.
Dua bulan
kemudian, Vehoeven mengambil keputusan besar dalam hidupnya, ia
mengatakan kepada keluarganya ia akan bunuh diri dengan bantuan doktor
setempat.
Dan begitulah, pada bulan Januari tahun 2013, seorang
doktor memberikannya dua suntikan, satu untuk membiusnya, dan yang
lainnya untuk mengakhiri hidupnya.
Hanya memerlukan waktu tiga
detik, untuk membuat Vehoeven jatuh koma. Dua minit kemudian, ia sudah
meninggalkan dunia yang fana ini, dengan sanak saudara yang mencintainya
berada di sekililingnya.
"Ia meninggal dunia dengan damai," kenang puterinya, Bregje, (37).
"Setelah
ayah saya memutuskan euthanasia, ia merasa lega. Ia sudah tak sabar
untuk pergi. Dalam beberapa hari terakhir ia mengucapkan selamat tinggal
kepada keluarganya, teman-temannya, dan berbicara tentang masa lalu,"
lanjutnya.
Veohoven merupakan satu dari pemohon suntik mati yang
sudah dilegalkan di Belanda. Suntik mati saat ini telah diterima menjadi
bahagian dari kehidupan atau kematian di Belanda.
Pemohon untuk
prosudur Euthanasia tak hanya dari kalangan orang yang sudah berusia
lanjut. Namun adapula permohonan untuk mengakhiri hidup bayi jika berada
dalam kondisi sakit keras atau hidup tanpa harapan.
Asosiasi
Medis Royal Belanda, memperkirakan bahwa sekitar 650 bayi baru lahir,
menjalani prosudur suntik mati setiap tahunnya karena mereka masuk dalam
kategori tersebut.
Dr Eduard Verhagen, seorang ahli pediatrik
Belanda terkemuka yang mendukung praktik ini, mengatakan bahwa seorang
bayi bisa menjalani prosudur ini dengan alasan bahwa kondisi medis anak
itu terlalu menyakitkan bagi kedua orangtuanya.
"Pengalaman ini
sangat menegangkan bagi orang tua. Melihat anak mereka gemetar di
saat-saat terakhirnya bisa melukai mereka selama-lamanya," katanya.
Meski suntik mati sudah dilegalkan di Belanda, namun etika yang menyertainya masih menjadi perdebatan sengit hingga saat ini. (dailymail)
No comments:
Post a Comment