07/02/2015
Kotak hitam pesawat TransAsia GE235 (focustaiwan.tw)
Taipei - Penyiasatan insiden jatuhnya pesawat TransAsia Airways fokus pada kegagalan injin. Ada dugaan human error
dalam insiden ini. Pilot diketahui mematikan dan menghidupkan lagi
injin yang masih berfungsi normal setelah injin lainnya mati.
Seperti dilansir AFP, Sabtu (7/2/2015), pesawat turboprop ATR 72-600 yang jatuh ke Sungai Keelung pada Rabu (4/2), memiliki injin kembar berbentuk baling-baling. Injin nombor 2 atau injin sebelah kanan mati terlebih dahulu pada detik ke-37 setelah pesawat lepas landasan pukul 10.51 waktu setempat, ketika pesawat ada di ketinggian 1,200 kaki.
Selang 46 detik kemudian, injin nombor 1 atau injin sebelah kiri yang beroperasi dengan normal malah dimatikan secara manual oleh pilot untuk kemudian dinyalakan kembali. Namun injin nombor 1 ini hanya hidup penuh selama 56 detik sebelum akhirnya mati kembali.
Dengan kondisi dua mesin pesawat mati di udara, pesawat akhirnya jatuh ke Sungai Keelung. Data kotak hitam pesawat menunjukkan pesawat hanya terbang selama 3 minit 23 detik setelah lepas landasan dari Lapangan Terbang Songshan, Taipei.
Maklumat tersebut disampaikan Badan Keselamatan Penerbangan Taiwan (ASC) dalam sidang media pada Jumaat (6/2) kemarin. Namun yang menjadi pertanyaan ialah apa alasan injin nombor 1 yang beroperasi normal harus dimatikan secara manual. Padahal pesawat jenis ATR memang dirancang untuk tetap boleh terbang meski hanya dengan satu injin.
"Tidak jelas," jawab Pengarah Operasional ASC, Thomas Wang merujuk pada alasan pilot mematikan injin nombor 1.
"Kami belum mencapai kesimpulan apapun," imbuhnya
Seperti dilansir AFP, Sabtu (7/2/2015), pesawat turboprop ATR 72-600 yang jatuh ke Sungai Keelung pada Rabu (4/2), memiliki injin kembar berbentuk baling-baling. Injin nombor 2 atau injin sebelah kanan mati terlebih dahulu pada detik ke-37 setelah pesawat lepas landasan pukul 10.51 waktu setempat, ketika pesawat ada di ketinggian 1,200 kaki.
Selang 46 detik kemudian, injin nombor 1 atau injin sebelah kiri yang beroperasi dengan normal malah dimatikan secara manual oleh pilot untuk kemudian dinyalakan kembali. Namun injin nombor 1 ini hanya hidup penuh selama 56 detik sebelum akhirnya mati kembali.
Dengan kondisi dua mesin pesawat mati di udara, pesawat akhirnya jatuh ke Sungai Keelung. Data kotak hitam pesawat menunjukkan pesawat hanya terbang selama 3 minit 23 detik setelah lepas landasan dari Lapangan Terbang Songshan, Taipei.
Maklumat tersebut disampaikan Badan Keselamatan Penerbangan Taiwan (ASC) dalam sidang media pada Jumaat (6/2) kemarin. Namun yang menjadi pertanyaan ialah apa alasan injin nombor 1 yang beroperasi normal harus dimatikan secara manual. Padahal pesawat jenis ATR memang dirancang untuk tetap boleh terbang meski hanya dengan satu injin.
"Tidak jelas," jawab Pengarah Operasional ASC, Thomas Wang merujuk pada alasan pilot mematikan injin nombor 1.
"Kami belum mencapai kesimpulan apapun," imbuhnya
Sumber: detikNews
No comments:
Post a Comment