12/3/15
Ilustrasi Hukuman Mati. © shutterstock
Menarik picu hanya perkara mudah, kata seorang algojo penembak pesalah mati di Nusakambangan.
Yang lebih sukar adalah ketika harus menyentuh korbannya langsung. Sang algojo harus mengikat tubuh calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.
Seorang petugas yang jadi algojo penembak ketika eksekusi gelombang pertama pada 8 Januari lalu mengisahkan pengalamannya.
"Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat pesalah , dibanding algojo penembak," kata dia, seperti dilansir surat khabar the Guardian, minggu lalu. "Soalnya mereka bertanggung jawab untuk membawa pesalah dan mengikat kedua tangan mereka sampai akhirnya mereka mati."
Sang algojo yang juga anggota Brimob itu tidak mau disebutkan namanya kerana kes ini cukup sensitif.
Selain dibebani tugas rutin, anggota Brimob juga ditugaskan menjadi eksekutor pesalah mati. Mereka dibayar kurang dari Rp 1.3 juta untuk menjalankan tugas ini.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah seorang algojo penembak, dia mengatakan "Ini akan jadi rahaia seumur hidup."
Ketika didesak lagi, dia terdiam beberapa saat.
"Sebagai seorang anggota Brimob saya terpaksa melakukannya dan saya tak punya pilihan," kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah langit.
"Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup," kata dia, seperti dilansir news.com.au, Rabu (11/3).
Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua pasukan yang ditugaskan. Pasukan pertama adalah yang membawa pesalah ke tiang buat diikat. dan pasukan kedua adalah penembak. Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah berada di kedua pasukan itu.
"Kami melihat pesalah itu dari dekat, dari ketika mereka masih hidup, berbicara, hingga mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu."
Lima anggota Brimob ditugaskan untuk mengawal setiap pesalah dari mulai membawa mereka keluar sel hingga menggiring mereka ke tiang.
Petugas mengatakan pesalah boleh memilih untuk menutup wajah mereka sebelum diikat supaya posisi mereka tidak bergerak saat berdiri di tiang.
Dengan tali tambang mereka mengikat pesalah ke tiang dalam keadaan berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka.
"Saya tidak berbicara dengan pesalah. Saya perlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Saya hanya bilang, "Maaf, saya hanya menjalankan tugas."
Para pesalah mati itu akan memakai baju berwarna putih dan jika mau mata mereka boleh ditutup.
Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.
Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima hingga sepuluh meter dan menembakkan senapang M16s saat diperintah.
Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi mental serta kebugaran fisikal. Mereka menembak secara bergiliran.
"Semua beres kurang dari lima minit," kata dia. "Setelah ditembak, pesalah itu akan lemas kerana sudah tidak bernyawa."
Seorang doktor memeriksa korban untuk memutuskan apakah dia sudah mati atau belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala dalam jarak dekat. Korban kemudian akan dimandikan dan dimasukkan ke dalam keranda.
Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan tugas berdasarkan aturan hukum.
"Saya terikat sumpah perajurit. Pesalah sudah melanggar undang-undang dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan kepada Tuhan.
Setelah melaksanakan eksekusi, petugas menjalani bimbingan spiritual dan psikologi selama tiga hari.
Seorang algojo juga diberi batas maksima jumlah eksekusi yang boleh dilakukannya.
"Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus berkali-kali boleh mempengaruhi secara psikologi," kata dia.
"Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja."
Suatu hari dia berharap boleh melupakan semua ini.
"Saya harap mereka beristirahat dengan tenang," kata dia. "Begitu pula saya."
Yang lebih sukar adalah ketika harus menyentuh korbannya langsung. Sang algojo harus mengikat tubuh calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.
Seorang petugas yang jadi algojo penembak ketika eksekusi gelombang pertama pada 8 Januari lalu mengisahkan pengalamannya.
"Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat pesalah , dibanding algojo penembak," kata dia, seperti dilansir surat khabar the Guardian, minggu lalu. "Soalnya mereka bertanggung jawab untuk membawa pesalah dan mengikat kedua tangan mereka sampai akhirnya mereka mati."
Sang algojo yang juga anggota Brimob itu tidak mau disebutkan namanya kerana kes ini cukup sensitif.
Selain dibebani tugas rutin, anggota Brimob juga ditugaskan menjadi eksekutor pesalah mati. Mereka dibayar kurang dari Rp 1.3 juta untuk menjalankan tugas ini.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah seorang algojo penembak, dia mengatakan "Ini akan jadi rahaia seumur hidup."
Ketika didesak lagi, dia terdiam beberapa saat.
"Sebagai seorang anggota Brimob saya terpaksa melakukannya dan saya tak punya pilihan," kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah langit.
"Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup," kata dia, seperti dilansir news.com.au, Rabu (11/3).
Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua pasukan yang ditugaskan. Pasukan pertama adalah yang membawa pesalah ke tiang buat diikat. dan pasukan kedua adalah penembak. Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah berada di kedua pasukan itu.
"Kami melihat pesalah itu dari dekat, dari ketika mereka masih hidup, berbicara, hingga mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu."
Lima anggota Brimob ditugaskan untuk mengawal setiap pesalah dari mulai membawa mereka keluar sel hingga menggiring mereka ke tiang.
Petugas mengatakan pesalah boleh memilih untuk menutup wajah mereka sebelum diikat supaya posisi mereka tidak bergerak saat berdiri di tiang.
Dengan tali tambang mereka mengikat pesalah ke tiang dalam keadaan berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka.
"Saya tidak berbicara dengan pesalah. Saya perlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Saya hanya bilang, "Maaf, saya hanya menjalankan tugas."
Para pesalah mati itu akan memakai baju berwarna putih dan jika mau mata mereka boleh ditutup.
Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.
Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima hingga sepuluh meter dan menembakkan senapang M16s saat diperintah.
Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi mental serta kebugaran fisikal. Mereka menembak secara bergiliran.
"Semua beres kurang dari lima minit," kata dia. "Setelah ditembak, pesalah itu akan lemas kerana sudah tidak bernyawa."
Seorang doktor memeriksa korban untuk memutuskan apakah dia sudah mati atau belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala dalam jarak dekat. Korban kemudian akan dimandikan dan dimasukkan ke dalam keranda.
Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan tugas berdasarkan aturan hukum.
"Saya terikat sumpah perajurit. Pesalah sudah melanggar undang-undang dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan kepada Tuhan.
Setelah melaksanakan eksekusi, petugas menjalani bimbingan spiritual dan psikologi selama tiga hari.
Seorang algojo juga diberi batas maksima jumlah eksekusi yang boleh dilakukannya.
"Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus berkali-kali boleh mempengaruhi secara psikologi," kata dia.
"Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja."
Suatu hari dia berharap boleh melupakan semua ini.
"Saya harap mereka beristirahat dengan tenang," kata dia. "Begitu pula saya."
Sumber: Merdeka.com
No comments:
Post a Comment