Sunday, March 8, 2015

Kisah wang Rp 100 ribu dan sapu tangan pesalah hukuman mati

CAP - Romo Charles Patrick Edward Burrow, Paderi dari Gereja Santo Stephanus, Cilacap, bukan kali ini saja ditunjuk sebagai pendamping rohani bagi pesalah hukuman mati yang akan dieksekusi di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.
 
Sebelum ditunjuk mendampingi terpidana mati berkewarganegaraan Brasil, Rodrigo Gularte, ia juga pernah menjadi pendamping rohani bagi terpidana mati berkewarganegaan Nigeria, Hansen Anthony Nwaolisa pada 2008.
"Saya jadi pendamping rohani Anthony. Saya mendampingi hingga akhir," kata Romo Carolus, sapaan akrabnya, kepada Okezone, Cilacap, Jawa Tengah, Ahad (8/3/2015).
Bahkan, Romo Carolus melihat langsung detik-detik Anthony meregang nyawa. Ketika itu, Anthony dieksekusi mati bersama pesalah dari  Nigeria lain, Samuel Iwachekwu Okoye. "Melihat ya. Kerana mereka baru meninggal, kerana mereka mengerang kesakitan," ungkap Romo Carolus mengenang.

Menurut Romo Carolus, ketika menjalani eksekusi, Anthony dan Samuel mengenakan jubah hitam dan di bahagian dada kiri dipasang simbol sasaran peluru ditembakkan. Dalam kesaksian Romo Carolus, ada jeda waktu tujuh hingga delapan minit Anthony mengerang kesakitan setelah ditembak pasukan  regu eksekusi.

Romo Carolus menambahkan, eksekusi mati Anthony dan Samuel terjadi pada Jumaat malam pukul 23.30 WIB. Ia menyatakan sebelum dieksekusi, Anthony sempat meminta diberi air minum. "Dia minta minum dan diberi segelas air mineral. Terus Anthony minta tambah satu gelas lagi, tapi hanya diminum setengah," terang Romo Carolus.

Sebelum meminta air minum, kata Romo Carolus, Anthony memintanya mengambil selembar wang Rp 100 ribu dan sapu tangan yang tersimpan di saku kiri. Selain itu,Anthony juga meminta Romo Carolus membuang sepatu yang dipakainya dan mengambil jam tangan yang disimpankan kepada penjaga   penjara.
"Tolong berikan kepada isteri saya," ungkap Romo Carolus menirukan pernyataan Anthony.
sumber: Okezone.com

No comments:

Post a Comment