Tentera Kenya berjaga di luar kampus Garissa (Reuters)
London, - Gadis berumur 19 tahun ini
selamat dalam pembantaian yang terjadi di Universiti Garissa, Kenya,
yang menyebabkan kematian 148 orang. Ditemui pada Sabtu (4/4), gadis ini nekat
bersembunyi selama lebih dari 48 jam di dalam kloset untuk menyelamatkan
diri dari pembantaian yang dilakukan oleh kelompok militan asal
Somalia, Al-Shabaab.
Dilansir CNN, Sabtu (4/4/2015), Cynthia Cheroitich mengaku mengunci dirinya di dalam lemari dan menutupi seluruh bahagian tubuhnya dengan tumpukan baju ketika para militan menyerang kampusnya pada 2 April lalu. Dia juga nekat meminum krim tubuh untuk bertahan hidup.
"Mereka memerintahkan teman-teman saya yang bersembunyi di bawah tempat tidur untuk keluar. Dan ketika mereka sudah di luar, para militan ini berkata siapapun yang tak dapat berbicara dengan bahasa Muslim harus berbaring. Sementara yang dapat melakukannya disuruh pindah ke sisi lain," ujarnya kepada CNN.
Militan keji asal Somalia, Al-Shabaab, telah mendakwa bertanggung jawab atas serangan brutal yang terjadi pada Khamis (2/4) waktu setempat. Pembantaian ini tercatat sebagai insiden kekerasan paling kejam yang pernah terjadi di Kenya semenjak pengeboman Kedutaan besar AS di Nairobi pada tahun 1998 lalu.
Para penyerang bertopeng menembak para mahasiswa dan melemparkan granat di kampus yang terletak di Garissa. Penyerangan berlangsung selama 13 jam.
Tentera Kenya lantas menyerbu para kelompok militan di areal kampus. Terdengar bunyi tembakan dan ledakan. "Kami menyapu daerah itu," kata Menteri Dalam Negeri Kenya Joseph Nkaiserry seperti dilansir AFP, Jumaat 3/4/15.
Dilansir CNN, Sabtu (4/4/2015), Cynthia Cheroitich mengaku mengunci dirinya di dalam lemari dan menutupi seluruh bahagian tubuhnya dengan tumpukan baju ketika para militan menyerang kampusnya pada 2 April lalu. Dia juga nekat meminum krim tubuh untuk bertahan hidup.
"Mereka memerintahkan teman-teman saya yang bersembunyi di bawah tempat tidur untuk keluar. Dan ketika mereka sudah di luar, para militan ini berkata siapapun yang tak dapat berbicara dengan bahasa Muslim harus berbaring. Sementara yang dapat melakukannya disuruh pindah ke sisi lain," ujarnya kepada CNN.
Militan keji asal Somalia, Al-Shabaab, telah mendakwa bertanggung jawab atas serangan brutal yang terjadi pada Khamis (2/4) waktu setempat. Pembantaian ini tercatat sebagai insiden kekerasan paling kejam yang pernah terjadi di Kenya semenjak pengeboman Kedutaan besar AS di Nairobi pada tahun 1998 lalu.
Para penyerang bertopeng menembak para mahasiswa dan melemparkan granat di kampus yang terletak di Garissa. Penyerangan berlangsung selama 13 jam.
Tentera Kenya lantas menyerbu para kelompok militan di areal kampus. Terdengar bunyi tembakan dan ledakan. "Kami menyapu daerah itu," kata Menteri Dalam Negeri Kenya Joseph Nkaiserry seperti dilansir AFP, Jumaat 3/4/15.
Sumber: detikNews
No comments:
Post a Comment