Rabu, 20 Mei 2015

.
Inilah isi iklan yang dipasang oleh seorang perempuan India untuk
mencarikan jodoh bagi puteranya seorang gay di tabliod Mid-Day terbitan
Mumbai.
NEW DELHI — Sebuah surat khabar India untuk
pertama kalinya memuat iklan yang berisi pencarian jodoh untuk lelaki gay. Iklan tersebut dipasang oleh ibu dari lelaki tersebut di tabloid
terlaris di Mumbai, Mid-Day, setelah tiga surat khabar lainnya menolak.
Padma Iyer, ibu lelaki tersebut, memasang iklan untuk mencari pasangan bagi puteranya Harish yang adalah seorang aktivis lembaga sosial masyarakat di kota pusat perniagaan India tersebut.
"Mencari pengantin lelaki berusia 25-40, mapan, pencinta hewan, vegetarian untuk putera saya (36), bekerja di LSM, kasta bukan pertimbangan utama," demikian isi iklan yang diterbitkan pada Selasa (19/5/2015).
Setiap harinya, di halaman perjodohan tabloid itu, ribuan iklan berisi pencarian calon suami atau isteri diterbitkan. Penerbitan iklan ini sejalan dengan tradisi keluarga yang mencarikan pasangan terbaik bagi anak-anak mereka.
Harish Iyer mengatakan, seperti kebanyakan ibu di India, ibunya juga merasa sangat berkepentingan untuk mencarikannya pasangan dan merencanakan pernikahan.
"Dia berfikir saya harus hidup mapan dan berkeluarga kerana usia saya terus bertambah. Sejauh ini sudah enam orang menanggapi iklan itu," ujar Harish.
"Orangtua (di India) sangat memikirkan masa depan anak-anak mereka, tak peduli apakah anak mereka gay atau tidak," tambah Harish.
Harish menambahkan, harian The Times of India dan DNA telah menolak menerbitkan iklan "pencarian jodoh" ini dengan alasan legal. Sementara harian The Hindustan Times menolak tanpa memberikan alasan.
"Secara editorial ketiga surat khabar itu mendukung hak-hak LGBT, tetapi saat mereka harus menghadapi masalah ini, mereka bersembunyi di balik hukum," lanjut Harish.
Pada 2013, Mahkamah Agung India menghidupkan kembali undang-undang dari masa kolonial Inggeris yang melarang homoseksualiti. Keputusan mahkamah agung India itu sangat mengejutkan para aktivis HAM dan komuniti gay di India.
Meski tuntutan hukum terhadap aktiviti homoseksual sangat jarang di India, tetapi komuniti gay negeri itu mengatakan, mereka menghadapi diskriminasi nyata dan pelecehan dari polis di India yang secara sosial masih sangat konservatif itu.
Sementara itu, harian The Hindustan Times menolak berkomentar soal penolakan mereka atas permohonan pemasangan iklan yang diajukan Padma Iyer. Sedangkan jurucakap DNA tak dapat dihubungi.
Sementara itu, seorang pegawai tinggi harian The India Times membantah pihaknya menolak untuk menerbitkan iklan itu. Dia mengatakan, tim legal harian tersebut hanya mengusulkan perubahan kata dari "pengantin lelaki" menjadi "pasangan" untuk menyelaraskan dengan hukum yang berlaku.
Namun, editor senior tabloid Mid-Day Sachin Kalbag mengatakan, tabloid yang dikelolanya itu tak melihat adanya masalah dengan iklan tersebut. "Kami meyakini hak asasi manusia harus diterapkan untuk semua golongan tanpa melihat agama, kasta, warna kulit, dan orientasi seksual seseorang," kata Kalbag.
Padma Iyer, ibu lelaki tersebut, memasang iklan untuk mencari pasangan bagi puteranya Harish yang adalah seorang aktivis lembaga sosial masyarakat di kota pusat perniagaan India tersebut.
"Mencari pengantin lelaki berusia 25-40, mapan, pencinta hewan, vegetarian untuk putera saya (36), bekerja di LSM, kasta bukan pertimbangan utama," demikian isi iklan yang diterbitkan pada Selasa (19/5/2015).
Setiap harinya, di halaman perjodohan tabloid itu, ribuan iklan berisi pencarian calon suami atau isteri diterbitkan. Penerbitan iklan ini sejalan dengan tradisi keluarga yang mencarikan pasangan terbaik bagi anak-anak mereka.
Harish Iyer mengatakan, seperti kebanyakan ibu di India, ibunya juga merasa sangat berkepentingan untuk mencarikannya pasangan dan merencanakan pernikahan.
"Dia berfikir saya harus hidup mapan dan berkeluarga kerana usia saya terus bertambah. Sejauh ini sudah enam orang menanggapi iklan itu," ujar Harish.
"Orangtua (di India) sangat memikirkan masa depan anak-anak mereka, tak peduli apakah anak mereka gay atau tidak," tambah Harish.
Harish menambahkan, harian The Times of India dan DNA telah menolak menerbitkan iklan "pencarian jodoh" ini dengan alasan legal. Sementara harian The Hindustan Times menolak tanpa memberikan alasan.
"Secara editorial ketiga surat khabar itu mendukung hak-hak LGBT, tetapi saat mereka harus menghadapi masalah ini, mereka bersembunyi di balik hukum," lanjut Harish.
Pada 2013, Mahkamah Agung India menghidupkan kembali undang-undang dari masa kolonial Inggeris yang melarang homoseksualiti. Keputusan mahkamah agung India itu sangat mengejutkan para aktivis HAM dan komuniti gay di India.
Meski tuntutan hukum terhadap aktiviti homoseksual sangat jarang di India, tetapi komuniti gay negeri itu mengatakan, mereka menghadapi diskriminasi nyata dan pelecehan dari polis di India yang secara sosial masih sangat konservatif itu.
Sementara itu, harian The Hindustan Times menolak berkomentar soal penolakan mereka atas permohonan pemasangan iklan yang diajukan Padma Iyer. Sedangkan jurucakap DNA tak dapat dihubungi.
Sementara itu, seorang pegawai tinggi harian The India Times membantah pihaknya menolak untuk menerbitkan iklan itu. Dia mengatakan, tim legal harian tersebut hanya mengusulkan perubahan kata dari "pengantin lelaki" menjadi "pasangan" untuk menyelaraskan dengan hukum yang berlaku.
Namun, editor senior tabloid Mid-Day Sachin Kalbag mengatakan, tabloid yang dikelolanya itu tak melihat adanya masalah dengan iklan tersebut. "Kami meyakini hak asasi manusia harus diterapkan untuk semua golongan tanpa melihat agama, kasta, warna kulit, dan orientasi seksual seseorang," kata Kalbag.
| Editor | : Ervan Hardoko |
| Sumber | : AFP/KOMPAS.com |
No comments:
Post a Comment