Friday, May 8, 2015

Menghina Raja dan Ratu, Aktivis ditangkap

8/5/15
Belanda Adili Penghina Raja dan Ratu
Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima (REUTERS/Dylan Martinez)
  Aktivis anti-kerajaan dibawa ke mahkamah  di Belanda, Rabu, 6 Mei 2015, setelah menghina anggota keluarga kerajaan dalam aksi protes di Amsterdam pada 2014.

Dipetik dari laman Dutch News, Khamis, 7 Mei, Abulkasim Al-Jaberi ditangkap ketika demonstrasi kerana berteriak "f... the king, f... the queen and f... the monarchy."

Penangkapan itu dirakam oleh stesyen televisyen tempatan AT5. Peguam Al-Jaberi, Willem Jebbink, mengatakan penahanan itu di luar batas kewajaran. "Dia diturunkan dari pentas oleh polis ," kata Jebbink.

Dia menyebut penangkapan itu memperlihatkan, bahawa polis  dan jabatan pendakwa tidak memahami kebebasan bersuara atau kebebasan melakukan demonstrasi.

Penangkapan itu dilakukan atas perintah Datuk  Bandar Amsterdam Eberhard van der Laan, namun dia ketika itu mengatakan ragu apakah ucapan yang dikeluarkan Al-Jaberi merupakan perbuatan yang salah dari segi undang-undang

"Itu komentar yang sangat kasar, tapi apakah itu merupakan pelanggaran hukum?" kata Eberhard yang dikutip Volkskrant. Jebbink menyebut akan memanggil raja dan ratu Belanda sebagai saksi.

Jebbing mengatakan akan bertanya pada Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima, jika mereka secara personal merasa terhina, atau apakah mereka akan mendukung kebebasan bersuara untuk kes itu.

Al-Jaberi akan dibawa ke mahkamah di Amsterdam pada 27 Mei, setelah menolak membuat kesepakatan di mahkamah, mengatur pemberian sanksi sebesar 500 euro.

Keputusan untuk mengadili Al-Jaberi memicu kecaman di media sosial. Namun hashtag yang mengutip umpatan Al-Jaberi itu, gagal masuk dalam daftar topik populrr, membuat beberapa pengguna menuduh Twitter melakukan sensor.

Al-Jaberi dituntut menggunakan pasal lese-majeste, atau kejahatan terhadap kerajaan. Belanda merupakan satu dari sedikit negara di Eropah, yang masih memberlakukan pasal itu dengan ancaman maksima  lima tahun penjara.

Pasal itu pernah digunakan Indonesia, sebagai bekas wilayah jajahan Belanda. Tiga pasal penghinaan terhadap presiden tertuang dalam KUHP, hingga Mahkamah Perlembagaan (MK) menghapusnya pada 2006.
 Sumber:VIVA.co.id

No comments:

Post a Comment