Sunday, April 17, 2016

Disiplin keras. lelaki ini bawa puteranya bersepatu roda 540 kilometer

Sabtu, 16 April 2016 
 
Shanghaiist- Zhang (39) mengajak puteranya yang baru berusia empat tahun bersepatu roda menuju Beijing yang jaraknya 540 kilometer dari kota asal mereka. Motif Zhang adalah mengajarkan kerasnya kehidupan kepada anaknya.

BEIJING   - Hidup itu tak muda dan keras. Nah, demi memberi pelajaran soal susahnya kehidupan seorang ayah menempuh cara yang ekstrem.

Zhang (39), seorang pemandu truk asal kota Puyang, provinsi Henan mengajak puteranya yang berusia 4 tahun pergi ke Beijing yang berjarak 540 kilometer dengan cara bersepatu roda.

Perjalanan ini dimulai bulan lalu. Setiap hari keduanya memulai perjalanan pada pukul 08.00 di jalan nasional China 106.

Setiap satu jam keduanya beristirahat untuk makan dan minum. Dan, menjelang gelap keduanya mencari tempat untuk menginap.

Setiap kali tiba di sebuah kota, Zhang akan mengabadikan puteranya berdiri di tanda penunjuk jalan. Saat mereka tiba di Beijing, Zhang memiliki setidaknya 600 foto mereka berdua.

Lalu apa halangan paling berat yang dihadapi selama perjalanan? Zhang menyebut cuaca berangin dan permukaan jalan yang tak rata sebagai halangan.

"Meski putera saya beberapa kali menangis, dia tak pernah menyerah. Itulah tujuan utama perjalanan ini yaitu untuk melatih dia tak mudah menyerah," ujar Zhang.

Pada 4 April lalu, setelah 14 hari perjalanan, ayah dan anak itu tiba di Beijing. Dan, sebagai imbalan atas kejayaan ini, Zhang mengajak puteranya ke berbagai daerah pelancungan di Beijing.

"Hidup itu seperti mengarungi perjalanan, terkadang jalan itu mulus namun tak jarang penuh rintangan," kata Zhang.

"Saya harap  pengalaman ini akan memberi kesan mendalam untuk anak saya ketika dewasa kelak," tambah Zhang.

Kisah Zhang dan puteranya ini menjadi perbincangan para netizen di dunia maya. Sebahagian netizen menganggap Zhang seorang maniak namun tak sedikit yang  memuji lelaki itu.

"Anak-anak zaman sekarang terlalu manja. Saya setuju dengan cara ayah ini melatih anaknya. Merasakan kepahitan di masa muda akan membantu mereka menjadi kuat di saat dewasa. Kerja bagus, pak!" ujar seorang netizen.

"Lalu lintas di jalan raya sangat ramai, terlalu berbahaya untuk bersepatu roda. Saya setuju dengan konsepnya, namun cara ini tak seharusnya dicontoh," kata netizen lainnya.

Setelah tiba di Beijing, Zhang dan puteranya tak lagi bersepatu roda ketika pulang. Mereka memilih menggunakan keretapi cepat untuk pulang kampung.
 
Sumber:KOMPAS.com
Editor : Ervan Hardoko
Sumber: shanghaiist

No comments:

Post a Comment