Posted by Rafly Rindengan on Feb 27, 2012
Sekitar 15,000 orang meninggal setiap tahunnya di India erana menuba menyeberangi rel kereta api, yang menurut komite pemerintah adalah sebuah ‘pembantaian’ yang diabaikan oleh otoriti kereta api di negara dengan sistem rel kereta api terbesar ke-empat di dunia itu.
Para pengawas keamanan mengatakan bahawa negara tersebut sangat memerlukan jejambat baru, namun rekomendasi sebelumnya untuk membuat sistem kereta api lebih selamat diabaikan oleh otoriti kereta api.
Menurut laporan yang dikutip ABC News, otoriti kereta api tidak menganggap kematian orang yang terlanggar saketika melintasi rel sebagai satu kecelakaan kereta api.
Laporan itu meminta pemerintah untuk segera mengganti semua perlintasan kereta api dengan jejantas, dengan perkiraan biaya sebesar 500 miliar rupee selama lima tahun ke depan.
Manado Today
Para pengawas keamanan mengatakan bahawa negara tersebut sangat memerlukan jejambat baru, namun rekomendasi sebelumnya untuk membuat sistem kereta api lebih selamat diabaikan oleh otoriti kereta api.
Menurut laporan yang dikutip ABC News, otoriti kereta api tidak menganggap kematian orang yang terlanggar saketika melintasi rel sebagai satu kecelakaan kereta api.
Dalam satu laporan yang dirilis minggu lalu, sebahagian besar kematian terjadi di perlintasan kereta api tak berawak, dimana sekitar 6,000 orang meninggal hanya di jaringan rel pinggiran kota Mumbai saja.“Situasi ini sangat berbahaya, di Mumbai dimana empat atau lima rel dan bahkan lebih, terletak sejajar, dan orang yang hidup di daerah kumuh di kedua sisinya tidak memiliki pilihan lain selain menyeberanginya,” kata IMS Rana, seorang ahli kereta api.
India mempunyai jalur rel kereta api sepanjang 64,000 kilometer, yang melewati beberapa kota yang padat penduduk.
Laporan itu meminta pemerintah untuk segera mengganti semua perlintasan kereta api dengan jejantas, dengan perkiraan biaya sebesar 500 miliar rupee selama lima tahun ke depan.
Manado Today

No comments:
Post a Comment