Julia Pastrana (news.com.au)
Mexico City - - Jasad wanita Mexico
yang digelar 'wanita paling buruk rupa di dunia' akhirnya dimakamkan
150 tahun setelah kematiannya. Semasa hidup, wanita ini berkeliling
dunia dalam komuniti sarkas kerana rupanya yang aneh dan berbeda dari
manusia kebanyakan.
Wanita bernama Julia Pastrana ini lahir di Mexico pada tahun 1834 silam. Pastrana menderita penyakit yang bernama hypertrichosis, yakni pertumbuhan rambut secara tidak wajar dan berlebihan di tubuh dan gingival hyperplasia, yakni pertumbuhan jaringan gusi yang berlebihan.
Kedua penyakit tersebut membuatnya memiliki rambut berlebihan hingga ke wajahnya dan juga memiliki rahang yang sangat tebal. Selama hidupnya, Pastrana yang malang ini digelar 'wanita beruang' atau 'wanita kera'. Demikian seperti dilansir Reuters, Rabu (13/2/2013).
Pada pertengahan tahun 1850-an, Pastrana bertemu dengan seorang lelaki bernama Theodore Lent, yang gemar memimpin rombongan sarkas. Lent mengajari Pastrana bernyanyi dan menari agar dia boleh tampil di acara sarkas berkeliling wilayah Amerika Syarikat dan Eropah. Lent menikahi Pastrana sebelum memboyongnya dalam rombongan sarkasnya.
Namun pada tahun 1860, Pastrana meninggal dunia di Moskow, Rusia ketika melahirkan puteranya, yang juga mewarisi penyakit ibunya sehingga memiliki wajah serupa. Nahas, putera Pastrana meninggal dunia beberapa hari kemudian.
Anehnya, Lent justru mengawetkan dan membalsem jasad Pastrana dan anaknya tersebut, kemudian membawanya berkeliling dunia untuk ditunjukkan dalam pertunjukan yang diadakannya. Selama beberapa dekade, jasad Pastrana dan puteranya pun berpindah tangan hingga akhirnya berakhir di tangan Universiti Oslo di Norwegia.
"Bayangkan bagaimana ejekan dan kekejaman dari orang lain yang harus dihadapinya dan bagaimana dia mengatasinya. Ini merupakan kisah yang sangat membanggakan," ujar Gubernur Sinaloa, Mario Lopez yang berhasil melobi pemilik jasad Pastrana agar dipulangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan secara sepatutnya.
"Ketika saya mendengar kisah tentang wanita yang berasal dari Sinaloa ini, saya berkata, tidak mungkin dia ditinggalkan di dalam gudang di suatu tempat," imbuhnya.
Ketika jasad Pastrana tiba di kota Sinaloa de Leyva pada Selasa (12/2) kelmarin waktu setempat, penduduk tempatan berbondong-bondong ingin memberikan penghormatan terakhir. Jasad Pastrana dimasukkan ke dalam peti putih yang dihiasi rangkaian bunga mawar putih.
"Upacara pemakamannya sangat indah. Saya sangat terharu. Selama beberapa tahun ini, saya tidak pernah merasa emosional seperti ini," tutur seorang seniman Mexico, Laura Anderson Barbata. Barbata yang tinggal di New York, AS ini ikut memperjuangkan pemulangan jasad Pastrana agar dapat dimakamkan dengan layak.
Wanita bernama Julia Pastrana ini lahir di Mexico pada tahun 1834 silam. Pastrana menderita penyakit yang bernama hypertrichosis, yakni pertumbuhan rambut secara tidak wajar dan berlebihan di tubuh dan gingival hyperplasia, yakni pertumbuhan jaringan gusi yang berlebihan.
Kedua penyakit tersebut membuatnya memiliki rambut berlebihan hingga ke wajahnya dan juga memiliki rahang yang sangat tebal. Selama hidupnya, Pastrana yang malang ini digelar 'wanita beruang' atau 'wanita kera'. Demikian seperti dilansir Reuters, Rabu (13/2/2013).
Pada pertengahan tahun 1850-an, Pastrana bertemu dengan seorang lelaki bernama Theodore Lent, yang gemar memimpin rombongan sarkas. Lent mengajari Pastrana bernyanyi dan menari agar dia boleh tampil di acara sarkas berkeliling wilayah Amerika Syarikat dan Eropah. Lent menikahi Pastrana sebelum memboyongnya dalam rombongan sarkasnya.
Namun pada tahun 1860, Pastrana meninggal dunia di Moskow, Rusia ketika melahirkan puteranya, yang juga mewarisi penyakit ibunya sehingga memiliki wajah serupa. Nahas, putera Pastrana meninggal dunia beberapa hari kemudian.
Anehnya, Lent justru mengawetkan dan membalsem jasad Pastrana dan anaknya tersebut, kemudian membawanya berkeliling dunia untuk ditunjukkan dalam pertunjukan yang diadakannya. Selama beberapa dekade, jasad Pastrana dan puteranya pun berpindah tangan hingga akhirnya berakhir di tangan Universiti Oslo di Norwegia.
"Bayangkan bagaimana ejekan dan kekejaman dari orang lain yang harus dihadapinya dan bagaimana dia mengatasinya. Ini merupakan kisah yang sangat membanggakan," ujar Gubernur Sinaloa, Mario Lopez yang berhasil melobi pemilik jasad Pastrana agar dipulangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan secara sepatutnya.
"Ketika saya mendengar kisah tentang wanita yang berasal dari Sinaloa ini, saya berkata, tidak mungkin dia ditinggalkan di dalam gudang di suatu tempat," imbuhnya.
Ketika jasad Pastrana tiba di kota Sinaloa de Leyva pada Selasa (12/2) kelmarin waktu setempat, penduduk tempatan berbondong-bondong ingin memberikan penghormatan terakhir. Jasad Pastrana dimasukkan ke dalam peti putih yang dihiasi rangkaian bunga mawar putih.
"Upacara pemakamannya sangat indah. Saya sangat terharu. Selama beberapa tahun ini, saya tidak pernah merasa emosional seperti ini," tutur seorang seniman Mexico, Laura Anderson Barbata. Barbata yang tinggal di New York, AS ini ikut memperjuangkan pemulangan jasad Pastrana agar dapat dimakamkan dengan layak.
(nvc/ita)

No comments:
Post a Comment