2 Okt 2013
Reporter : Faisal Assegaf
Pengantin cilik Yaman. (ilustrasi/nationalgeographic.com)
Bagi Muhammad al-Ahdam, 33 tahun, malam pertama itu begitu dia
nantikan. Dengan nafas sedikit memburu, dia melepas satu-satu
pakaiannya. Dalam sekejap...
Tapi buat Nura asy-Syami, sebelas tahun, malam itu adalah awal dari horor dan trauma terbesar sepanjang hidupnya. Melihat suaminya telanjang, dia berteiak ketakutan dan berusaha keluar dari kamar pengantin. Usahanya meminta bantuan percuma saja sebab dia sudah sah menikah.
Ayahnya menjodohkan dia dengan Muhammad kerana tidak ingin Nura hidup miskin. Muhammad bekerja sebagai pegawai negeri.
Pernikahan muda hal lumrah di seantero Yaman. Orang tua gadis biasanya menjodohkan dan menikahkan puteri mereka kerana faktor ekonomi: untuk mengurangi beban keluarga.
Menurut data Kementerian Sosial Yaman pada 2010, seperlima dari pengantin perempuan di negara itu berusia di bawah 15 tahun. Negara ini pernah mengeluarkan aturan umur paling muda buat menikah adalah 15 tahun. Namun kebijakan ini dianulir dengan alasan orang tua berhak menentukan bila puterinya harus menikah.
Setelah pesta tiga hari tiga malam di kota pantai Al-Hudaidah, Yaman, pengantin baru ini menetap dia rumah orang tua Muhammad. "Usianya tiga kali lebih tua dibanding saya. Dia memandang pernikahan sebagai alat buat bertindak seperti binatang," kata Nura mengenang pengalaman pahitnya, seperti dilansir surat khabar the Daily Mail kemarin.
Saking takutnya, Nura menolak melayani suaminya di sepuluh hari pertama. Sehabis bercinta untuk pertama kali, tubuhnya kejang dan dia terpaksa dirawat di rumah sakit.
Rupanya pilihan ayahnya salah kaprah. Muhammad bukan lelaki baik. Dia kasar dan sering memukuli Nura. "Saya cuma menjadi objek seks," ujarnya. Bahkan akibat kekerasan fisik dan mental oleh suaminya, Nura keguguran dua kali.
Pasangan ini akhirnya dikurniakan anak pertama dua tahun setelah berumah tangga. Putera pertama mereka, Ihab lahir ketika Nura berumur 13 tahun. Setahun kemudian, dia melahirkan puteri diberina nama Ahlam. Genap 15 tahun, Nura memiliki anak ketiga bernama Syibab.
Meski sudah beranak, perilaku buruk Muhammad tidak berubah. Kerana tidak kuat lagi menahan derita, Nura mengajukan cerai dibantu peguam ditunjuk oleh lembaga nirlaba internasional Oxfam.
Setelah satu dasawarsa, Nura akhirnya pada 1989 berpisah dari suaminya. Dia mengikuti jejak ibunya menikah di usia sembilan tahun dan bercerai setahun kemudian.
Nura merasa lega meski hingga kini tetap menjanda.
Tapi buat Nura asy-Syami, sebelas tahun, malam itu adalah awal dari horor dan trauma terbesar sepanjang hidupnya. Melihat suaminya telanjang, dia berteiak ketakutan dan berusaha keluar dari kamar pengantin. Usahanya meminta bantuan percuma saja sebab dia sudah sah menikah.
Ayahnya menjodohkan dia dengan Muhammad kerana tidak ingin Nura hidup miskin. Muhammad bekerja sebagai pegawai negeri.
Pernikahan muda hal lumrah di seantero Yaman. Orang tua gadis biasanya menjodohkan dan menikahkan puteri mereka kerana faktor ekonomi: untuk mengurangi beban keluarga.
Menurut data Kementerian Sosial Yaman pada 2010, seperlima dari pengantin perempuan di negara itu berusia di bawah 15 tahun. Negara ini pernah mengeluarkan aturan umur paling muda buat menikah adalah 15 tahun. Namun kebijakan ini dianulir dengan alasan orang tua berhak menentukan bila puterinya harus menikah.
Setelah pesta tiga hari tiga malam di kota pantai Al-Hudaidah, Yaman, pengantin baru ini menetap dia rumah orang tua Muhammad. "Usianya tiga kali lebih tua dibanding saya. Dia memandang pernikahan sebagai alat buat bertindak seperti binatang," kata Nura mengenang pengalaman pahitnya, seperti dilansir surat khabar the Daily Mail kemarin.
Saking takutnya, Nura menolak melayani suaminya di sepuluh hari pertama. Sehabis bercinta untuk pertama kali, tubuhnya kejang dan dia terpaksa dirawat di rumah sakit.
Rupanya pilihan ayahnya salah kaprah. Muhammad bukan lelaki baik. Dia kasar dan sering memukuli Nura. "Saya cuma menjadi objek seks," ujarnya. Bahkan akibat kekerasan fisik dan mental oleh suaminya, Nura keguguran dua kali.
Pasangan ini akhirnya dikurniakan anak pertama dua tahun setelah berumah tangga. Putera pertama mereka, Ihab lahir ketika Nura berumur 13 tahun. Setahun kemudian, dia melahirkan puteri diberina nama Ahlam. Genap 15 tahun, Nura memiliki anak ketiga bernama Syibab.
Meski sudah beranak, perilaku buruk Muhammad tidak berubah. Kerana tidak kuat lagi menahan derita, Nura mengajukan cerai dibantu peguam ditunjuk oleh lembaga nirlaba internasional Oxfam.
Setelah satu dasawarsa, Nura akhirnya pada 1989 berpisah dari suaminya. Dia mengikuti jejak ibunya menikah di usia sembilan tahun dan bercerai setahun kemudian.
Nura merasa lega meski hingga kini tetap menjanda.
No comments:
Post a Comment