Friday, November 22, 2013

Kisah Benar:Rumah neraka di tanah suci

22 Nov 2013

 Rumah neraka di tanah suci
Abir, mangsa penganiayaan suaminya ketika tinggal di Kota Makkah, Arab Saudi. (alsharq.net.sa)
 
Suara azan zuhur belum lama berkumandang dari pembesar suara Masjid Al-Haram di Kota Mekkah, Arab Saudi. Abir dan seorang puterinya sedang asyik melahap makan siang. Suaminya, Usman (nama samaran), pulang tiba-tiba.

Bukannya makan bersama isteri dan anaknya, dia marah-marah dan memukul  dua orang yang sepatutnya dia sayang. "Dia memukul kami dengan brutal dan hidung puteri saya berdarah," kata Abir mengenang satu dari sekian banyak pengalaman pahitnya itu, seperti dilansir surat khabar Saudi Gazette Rabu lalu.

Mulanya, rumah tangga Abir bahagia. Di hari pernikahannya, pengantin Saudi ini naik kuda putih. Dengan jatah warisan dari ayahnya, Abir dan Usman, membangun rumah berharga delapan juta riyal . Pasangan ini dikurniakan empat anak perempuan.

Rumah mewah dan nyaman itu bertukar wajah   seolah neraka sejak ayah Abir meninggal. Usman, sang menantu, tidak dapat menjaga sumpahnya ketika akad. Perangai buruknya mulai kelihatan. Dia memanfaatkan kelemahan Abir lantaran semua adik lelakinya masih kecil dan ibunya telah tua.

"Suami saya mengambil keuntungan dari kelemahan saya dan mulai menyiksa saya dengan pelbagai cara setelah dia mapan," ujar Abir. Usman membawa kembali mantan isterinya ke rumah dan mengusir Abir bersama empat anaknya. Abir kemudian ditahan di sebuah vila milik suaminya di luar Mekkah. Kelimanya mendekam di sebuah ruangan selalu terkunci dan hanya ada satu jendela.

Seorang penjaga diarah mengawasi agar tidak seorang pun mengetahui tempat menyembunyikan Abir dan empat puterinya itu. Kondisi mereka menyedihkan. Sampai-sampai harus berbagi makanan dengan penjaga. Abir berulang kali meminta belas kasihan agar dibebaskan, namun penjaga takut kepada suami Abir.

Hingga akhirnya rakan-rakan Abir menemui tempat itu. Tetap saja, penjaga menolak dibebaskan. Satu hari, Abir menyogok penjaga agar diberi telepon selular. Dia kemudian menghubungi balai polis  dan memberi tahu lokasi penahanannya.

Tapi jawaban polis  sungguh mengecewakan. Mereka kata tidak berhak menyerbu vila peribadi. Abir diminta mencari cara agar dapat lari.

Singkat cerita, dia bersama empat anaknya berhasil lari ketika penjaga meleng. Dari jalan terdekat, dia menelepon polis  dan petugas sosial. Usman datang di masa yang sama. Dia kemudian memukul  isterinya di depan polis , polis terdiam mematung.

Abir dan anak-anaknya kemudian dibawa ke balai polis . Ketika Usman muncul lagi di balai polis  dan mulai memukul  isterinya, dia ditangkap dan ditahan.

Polis  lalu membebaskan Abir dan keempat anaknya. Mereka lantas menuju Bandar Udara King Abdul Aziz dan terbang ke Ibu Kota Riyadh. "Saya tiba di Riyadh bersama anak-anak saya dan berkumpul lagi bersama keluarga," tutur Abir.

Abir menuntut suaminya mengembalikan semua wang dia keluarkan untuk memulai perniagaan suaminya. Namun dia cemas bakal kalah di mahkamah lantaran adik-adiknya masih kecil buat mewakili dia ketika perbicaraan nanti. "Suami saya mengancam mempermalukan saya dan anak-anak saya jika saya tidak kembali ke Mekkah."

Buat Abir, Mekkah barangkali bukan lagi tanah suci baginya. Kota itu tak ubahnya neraka lantaran membuat hidupnya tersiksa.

Merdeka.com

No comments:

Post a Comment