09 Jan 2014 detikNews
Salah Uddin Shoaib Choudhury (Outlook India/dawn.com)
Dhaka - Seorang editor surat kabar
Bangladesh dijatuhi vonis 7 tahun penjara oleh pengadilan setempat. Pria
berusia 48 tahun ini berusaha berkunjung ke Israel untuk berbicara soal
militansi Islam yang semakin meningkat.
Salah Uddin Shoaib Choudhury yang merupakan editor surat kabar Weekly Blitz ini dinyatakan bersalah atas dakwaan membahayakan kepentingan negara melalui artikelnya dan juga melakukan perjalanan terlarang ke Mesir. Demikian seperti disampaikan jaksa Shah Alam Talukder usai sidang dan dilansir AFP, Kamis (9/1/2014).
Bangladesh yang mayoritas penduduknya muslim, tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sebanyak 154 juta penduduk Bangladesh dilarang untuk bepergian ke Israel.
Choudhury ditangkap polisi pada November 2003 lalu di Bandara Dhak ketika dia berusaha terbang ke Tel Aviv, Israel. Saat itu Choudhury hendak menghadiri sebuah konferensi di Tel Aviv untuk mempresentasikan tulisannya mengenai munculnya militansi Islam di Bangladesh.
"Polisi menyita sejumlah CD, sebuah laptop dan sebuah tiket pesawat atas namanya dengan rute Dhaka-Bangkok-Tel Aviv. Dia hendak pergi ke Israel untuk berbicara mengenai meningkatnya militansi Islam dan bagaimana madrasah digunakan untuk mengembangkan para militan," jelas Talukder.
Pengadilan menilai tulisan Choudhury mengenai militansi tersebut bersifat menghina dan menghasut, serta menodai citra Bangladesh di dunia internasional. Menurut jaksa Talukder, beberapa tulisan Choudhury diterbitkan oleh surat kabar Amerika Serikat, USA Today.
Menanggapi vonis ini, pengacara Choudhury menyatakan akan mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi. Vonis ini dianggap tidak adil dan hanya didasarkan pada tuduhan palsu.
"Jaksa tidak pernah bisa membuktikan bahwa klien saya memang berencana pergi ke Israel. Tulisannya yang disebut ada di USA Today juga tidak pernah ditemukan," ucap pengacara Choudhury, Prokash Ranjan Biswas.
Choudhury dikenal sebagai wartawan kritis pada tahun 2001-2006 lalu ketika Bangladesh masih dipimpin Perdana Menteri Khaleda Zia. Saat itu, banyak gerakan militan yang melakukan serangan bom mematikan di Bangladesh.
Salah Uddin Shoaib Choudhury yang merupakan editor surat kabar Weekly Blitz ini dinyatakan bersalah atas dakwaan membahayakan kepentingan negara melalui artikelnya dan juga melakukan perjalanan terlarang ke Mesir. Demikian seperti disampaikan jaksa Shah Alam Talukder usai sidang dan dilansir AFP, Kamis (9/1/2014).
Bangladesh yang mayoritas penduduknya muslim, tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sebanyak 154 juta penduduk Bangladesh dilarang untuk bepergian ke Israel.
Choudhury ditangkap polisi pada November 2003 lalu di Bandara Dhak ketika dia berusaha terbang ke Tel Aviv, Israel. Saat itu Choudhury hendak menghadiri sebuah konferensi di Tel Aviv untuk mempresentasikan tulisannya mengenai munculnya militansi Islam di Bangladesh.
"Polisi menyita sejumlah CD, sebuah laptop dan sebuah tiket pesawat atas namanya dengan rute Dhaka-Bangkok-Tel Aviv. Dia hendak pergi ke Israel untuk berbicara mengenai meningkatnya militansi Islam dan bagaimana madrasah digunakan untuk mengembangkan para militan," jelas Talukder.
Pengadilan menilai tulisan Choudhury mengenai militansi tersebut bersifat menghina dan menghasut, serta menodai citra Bangladesh di dunia internasional. Menurut jaksa Talukder, beberapa tulisan Choudhury diterbitkan oleh surat kabar Amerika Serikat, USA Today.
Menanggapi vonis ini, pengacara Choudhury menyatakan akan mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi. Vonis ini dianggap tidak adil dan hanya didasarkan pada tuduhan palsu.
"Jaksa tidak pernah bisa membuktikan bahwa klien saya memang berencana pergi ke Israel. Tulisannya yang disebut ada di USA Today juga tidak pernah ditemukan," ucap pengacara Choudhury, Prokash Ranjan Biswas.
Choudhury dikenal sebagai wartawan kritis pada tahun 2001-2006 lalu ketika Bangladesh masih dipimpin Perdana Menteri Khaleda Zia. Saat itu, banyak gerakan militan yang melakukan serangan bom mematikan di Bangladesh.
No comments:
Post a Comment