09 Jan 2014
Jiagu Zhu dan isterinya Jianying Liu. en.rocketnews24.com
Pendidikan sangat penting, terutama di kota-kota besar di mana kualifikasi ijazah sering menjadi faktor menentukan apakah anda boleh mendapatkan pekerjaan dan berapa gaji untuk pekerjaan itu.
Tahu bahawa pendidikan memainkan peranan penting bagi masa depan
anak-anak mereka, banyak orangtua bekerja keras dan menginvestasikan
sejumlah besar tabungan untuk pendidikan anak-anak. Beberapa orangtua
bekerja keras untuk hal ini, tetapi di antara mereka ada satu pasangan
yang bekerja sedikit lebih keras daripada lainnya, seperti dilansir
situs Rocket News24, Khamis (9/1).
Pasangan dari Kota Hengyang, Wilayah Hunan, China,Jiagu Zhu
danistrinyaJianying Liu,mengumpulkan botol-botol
plastik terpakai untuk mencari nafkah. Mereka bahkan mengerjakan lebih dari 180
kilogram botol plastik tiap harinya agar anak-anak mereka dapat
menempuh pendidikan sampai menara gading. Ini berarti mereka
mengerjakan lebih dari 7,000 botol setiap hari.
Menurut laporan laman Hua Xin Zai Xian, Zhu menyewa sebuah kilang
sepuluh tahun lalu pada 2004. Bersama Liu, Zhu mendirikan pabrik kitar semula plastik (recycle)dan membuat kitar semula bahan-bahan plastik sebagai
pekerjaan mereka.
Sejak itu, keduanya bekerja di antara tumpukan botol dan wadah
plastik yang sangat banyak, dengan rata-rata 7,000 botol plastik setiap
harinya. Pada hari-hari sibuk, mereka bahkan bisa mengerjakan lebih dari
10,000 botol sehari.
Setiap tahun, mereka mendaur ulang hingga 20 ton botol plastik atau
sekitar 900,000 botol. Selain botol plastik, mereka juga menangani
materi berbahan plastik lainnya dapat didaur ulang, yang juga bisa
mencapai 20 ton.
Mengumpulkan plastik mungkin tampak seperti pekerjaan biasa, tetapi
setiap proses membutuhkan usaha luar biasa dan waktu di mana mereka
menjalankan bisnis ini sepenuhnya oleh mereka sendiri. Tim terdiri dari
suami istri itu juga berbagi beban kerja, di mana Zhu memulai hari
dengan melangkah menyusuri jalan-jalan dan lorong-lorong untuk
mengumpulkan plastik tidak diinginkan yang ditaruh di sepeda roda
tiganya, sementara istrinya tetap berada di pabrik untuk mencuci dan
memisahkan plastik agar dapat diproses lebih lanjut.
Ketika diwawancarai, lelah terlihat di setiap ucapan Liu di mana dia
berulang kali menyebut bahwa pekerjaan ini sangat sulit dan melelahkan.
Tapi saat dia berbicara, ketika tatapannya menuju suaminya, senyuman
terpancar di wajahnya.
"Setelah menjalani masa-masa sulit maka akan ada waktu yang indah.
Setelah bekerja keras, Anda akan menuai hasil yang baik. Kami hanyalah
rakyat biasa, tidak ada yang kami takutkan. Kami tidak takut menghadapi
kehidupan yang keras, kami tidak takut kerja melelahkan, tapi kami dapat
mengukir hidup bahagia dengan tangan kosong kami," kata Zhu.
Bagi mereka, masa-masa paling sulit telah berlalu. Kedua anak mereka
telah lulus dari perguruan tinggi. Dengan tangan kosong, sebuah mimpi
setidaknya telah memberikan anak-anak mereka masa depan yang cerah, dan
dengan kerja keras, mereka bahkan berhasil mengirimkan salah satu anak
mereka ke Jerman untuk mengejar PhD.
No comments:
Post a Comment