Friday, January 10, 2014

Pasangan China kitar semula 7,000 botol terpakai sehari buat sekolahkan anak

09 Jan 2014

Pasangan China daur ulang 7.000 botol sehari buat sekolahin anak
Jiagu Zhu dan isterinya Jianying Liu. en.rocketnews24.com



Pendidikan sangat penting, terutama di kota-kota besar di mana kualifikasi ijazah sering menjadi faktor menentukan apakah anda boleh mendapatkan pekerjaan dan berapa gaji untuk pekerjaan itu.
Tahu bahawa pendidikan memainkan peranan penting bagi masa depan anak-anak mereka, banyak orangtua bekerja keras dan menginvestasikan sejumlah besar tabungan untuk pendidikan anak-anak. Beberapa orangtua bekerja keras untuk hal ini, tetapi di antara mereka ada satu pasangan yang bekerja sedikit lebih keras daripada lainnya, seperti dilansir situs Rocket News24, Khamis (9/1).

Pasangan dari Kota Hengyang,  Wilayah Hunan, China,Jiagu Zhu danistrinyaJianying Liu,mengumpulkan   botol-botol plastik terpakai untuk mencari nafkah. Mereka bahkan mengerjakan lebih dari 180 kilogram botol plastik tiap harinya agar anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan sampai menara gading. Ini berarti mereka mengerjakan lebih dari 7,000 botol setiap hari.

Menurut laporan laman Hua Xin Zai Xian, Zhu menyewa sebuah kilang sepuluh tahun lalu pada 2004. Bersama Liu, Zhu mendirikan pabrik kitar semula plastik (recycle)dan membuat kitar semula bahan-bahan plastik sebagai pekerjaan mereka.

Sejak itu, keduanya bekerja di antara tumpukan botol dan wadah plastik yang sangat banyak, dengan rata-rata 7,000 botol plastik setiap harinya. Pada hari-hari sibuk, mereka bahkan bisa mengerjakan lebih dari 10,000 botol sehari.
Setiap tahun, mereka mendaur ulang hingga 20 ton botol plastik atau sekitar 900,000 botol. Selain botol plastik, mereka juga menangani materi berbahan plastik lainnya dapat didaur ulang, yang juga bisa mencapai 20 ton.

Mengumpulkan plastik mungkin tampak seperti pekerjaan biasa, tetapi setiap proses membutuhkan usaha luar biasa dan waktu di mana mereka menjalankan bisnis ini sepenuhnya oleh mereka sendiri. Tim terdiri dari suami istri itu juga berbagi beban kerja, di mana Zhu memulai hari dengan melangkah menyusuri jalan-jalan dan lorong-lorong untuk mengumpulkan plastik tidak diinginkan yang ditaruh di sepeda roda tiganya, sementara istrinya tetap berada di pabrik untuk mencuci dan memisahkan plastik agar dapat diproses lebih lanjut.

Ketika diwawancarai, lelah terlihat di setiap ucapan Liu di mana dia berulang kali menyebut bahwa pekerjaan ini sangat sulit dan melelahkan. Tapi saat dia berbicara, ketika tatapannya menuju suaminya, senyuman terpancar di wajahnya.

"Setelah menjalani masa-masa sulit maka akan ada waktu yang indah. Setelah bekerja keras, Anda akan menuai hasil yang baik. Kami hanyalah rakyat biasa, tidak ada yang kami takutkan. Kami tidak takut menghadapi kehidupan yang keras, kami tidak takut kerja melelahkan, tapi kami dapat mengukir hidup bahagia dengan tangan kosong kami," kata Zhu.

Bagi mereka, masa-masa paling sulit telah berlalu. Kedua anak mereka telah lulus dari perguruan tinggi. Dengan tangan kosong, sebuah mimpi setidaknya telah memberikan anak-anak mereka masa depan yang cerah, dan dengan kerja keras, mereka bahkan berhasil mengirimkan salah satu anak mereka ke Jerman untuk mengejar PhD.

Merdeka.com -

No comments:

Post a Comment