Kisah cinta polis Andrei dan gadis demonstran Ukraine Lidia Pankiv. dailymail.co.uk ©2014 Merdeka.com
Konon cinta harus satu visi dan misi. Kucing dan tikus tidak akan
boleh menyatu sebab salah satu pihak memburu dan yang lainnya diburu.
Dalam satu gejolak politik polis berdiri bagi kepentingan pemerintah
sementara demonstran membela keinginan massa. Tapi bagai pepatah Dewa
Cinta (Cupid) masih bayi dan dia pun bisa melepaskan anak panah sesuka
hati nampak berlaku di unjuk rasa Ibu Kota Kiev, Ukraina. Gadis pemrotes
pemerintah jatuh hati pada perwira keamanan, demikian lansiran surat
kabar the Daily Mail, Selasa (25/2).
Gayung bersambut, Lidia Pankiv sang demonstran menceritakan kisah
cintanya pada Andrei, bukan nama sebenarnya, seorang polisi bertugas
mengamankan unjuk rasa dari kerusuhan. Pankiv yang juga jurnalis satu
waktu pernah ada di depan garis massa, menjadi perisai puluhan ribu
orang yang menuntut perubahan ekonomi di negara itu.
"Saya sedekat ini dengan polisi," ujarnya membuka tangan dan mengarah
ke wajah. Pankiv termasuk barisan perempuan cantik Ukraina. Bisa jadi
demonstran menempatkan dia dan jajaran kaum hawa rupawan demi
menaklukkan aparat.
"Saat berada di depan itu aku mendapat telepon dari teman. Dia ingin
aku mencari rekannya yang ditahan. Lalu aku memberikan dia nomor
teleponku yang lain padanya," ujar Pankiv.
Tak disangka salah satu polisi malah mengingat nomor disebutkan
Pankiv sembari teriak-teriak lantaran keadaan di sana ramai. Pankiv
menerima satu pesan, namun bukan dari sang rekan melainkan dari salah
satu perwira. "Aku tidak bisa menyebutkan nama lengkapku. Aku bisa
dipecat. Tapi aku mengatakan padanya, aku mau menikahi dia," ujar Andrei
mengaku cinta mati saat pertama kali bertemu Pankiv.
Perempuan 24 tahun itu tidak mengerti dari mana pesan singkat itu
datang. Bahkan ada pesan kedua mengatakan agar dia tidak bingung. "Saya
hafal nomor telepon kamu dan menghafalnya sebab kamu menyebutnya sembari
teriak," tulis pesan dari Andrei itu. Akhirnya keduanya setuju bertemu
di kamp konsentrasi massa, Maidan, di Lapangan Merdeka, jantung Ukraina.
Pankiv terkejut saat bertemu Andrei ternyata berseberangan ideologi
dengannya. Tapi cinta tak bisa ditolak. Dia pun mengaku dadanya berdegup
kencang saat bertemu sang polisi. Sebenarnya kedua insan ini bertemu
Desember tahun lalu dan baru menceritakan kisahnya sebab eskalasi
bentrokan sangat tinggi dan ini mempengaruhi posisi Andrei sebagai
bagian satuan keamanan.
Pankiv setuju membeberkan kisah cinta mereka agar tidak lagi terjadi
bentrokan. "Kekasihku dan warga Ukraina sama-sama menginginkan
perubahan. Aku ingin mebuang rasa benci para demonstran pada aparat dan
memandang mereka sebagai penduduk yang sama rata dan hanya menjalankan
tugasnya. Ini supaya masing-masing pihak bisa menahan diri dan
menjalankan kewajibannya mewujudkan Ukraina damai serta sejahtera," ujar
Pankiv berapi-api saat memberi keterangan di stasiun televisi disiarkan
secara langsung.
Keinginan membongkar kisah cinta mereka dijadikan salah satu meredam langkah terjadinya perang saudara di negara itu. Semoga.Merdeka.com 25/2/14
No comments:
Post a Comment