Tuesday, February 25, 2014

Hebat!Kisah cinta antara polis dan demonstran di tengah rumor perang saudara

 Kisah cinta di tengah rumor perang saudara
Kisah cinta polis Andrei dan gadis demonstran Ukraine Lidia Pankiv. dailymail.co.uk ©2014 Merdeka.com

  
Konon cinta harus satu visi dan misi. Kucing dan tikus tidak akan boleh menyatu sebab salah satu pihak memburu dan yang lainnya diburu. Dalam satu gejolak politik polis berdiri bagi kepentingan pemerintah sementara demonstran membela keinginan massa. Tapi bagai pepatah Dewa Cinta (Cupid) masih bayi dan dia pun bisa melepaskan anak panah sesuka hati nampak berlaku di unjuk rasa Ibu Kota Kiev, Ukraina. Gadis pemrotes pemerintah jatuh hati pada perwira keamanan, demikian lansiran surat kabar the Daily Mail, Selasa (25/2).

Gayung bersambut, Lidia Pankiv sang demonstran menceritakan kisah cintanya pada Andrei, bukan nama sebenarnya, seorang polisi bertugas mengamankan unjuk rasa dari kerusuhan. Pankiv yang juga jurnalis satu waktu pernah ada di depan garis massa, menjadi perisai puluhan ribu orang yang menuntut perubahan ekonomi di negara itu.

"Saya sedekat ini dengan polisi," ujarnya membuka tangan dan mengarah ke wajah. Pankiv termasuk barisan perempuan cantik Ukraina. Bisa jadi demonstran menempatkan dia dan jajaran kaum hawa rupawan demi menaklukkan aparat.
"Saat berada di depan itu aku mendapat telepon dari teman. Dia ingin aku mencari rekannya yang ditahan. Lalu aku memberikan dia nomor teleponku yang lain padanya," ujar Pankiv.

Tak disangka salah satu polisi malah mengingat nomor disebutkan Pankiv sembari teriak-teriak lantaran keadaan di sana ramai. Pankiv menerima satu pesan, namun bukan dari sang rekan melainkan dari salah satu perwira. "Aku tidak bisa menyebutkan nama lengkapku. Aku bisa dipecat. Tapi aku mengatakan padanya, aku mau menikahi dia," ujar Andrei mengaku cinta mati saat pertama kali bertemu Pankiv.

Perempuan 24 tahun itu tidak mengerti dari mana pesan singkat itu datang. Bahkan ada pesan kedua mengatakan agar dia tidak bingung. "Saya hafal nomor telepon kamu dan menghafalnya sebab kamu menyebutnya sembari teriak," tulis pesan dari Andrei itu. Akhirnya keduanya setuju bertemu di kamp konsentrasi massa, Maidan, di Lapangan Merdeka, jantung Ukraina.

Pankiv terkejut saat bertemu Andrei ternyata berseberangan ideologi dengannya. Tapi cinta tak bisa ditolak. Dia pun mengaku dadanya berdegup kencang saat bertemu sang polisi. Sebenarnya kedua insan ini bertemu Desember tahun lalu dan baru menceritakan kisahnya sebab eskalasi bentrokan sangat tinggi dan ini mempengaruhi posisi Andrei sebagai bagian satuan keamanan.

Pankiv setuju membeberkan kisah cinta mereka agar tidak lagi terjadi bentrokan. "Kekasihku dan warga Ukraina sama-sama menginginkan perubahan. Aku ingin mebuang rasa benci para demonstran pada aparat dan memandang mereka sebagai penduduk yang sama rata dan hanya menjalankan tugasnya. Ini supaya masing-masing pihak bisa menahan diri dan menjalankan kewajibannya mewujudkan Ukraina damai serta sejahtera," ujar Pankiv berapi-api saat memberi keterangan di stasiun televisi disiarkan secara langsung.
Keinginan membongkar kisah cinta mereka dijadikan salah satu meredam langkah terjadinya perang saudara di negara itu. Semoga.Merdeka.com 25/2/14

No comments:

Post a Comment