Saya tak yakin bagaimana harus menanggapi candaan ini. Apakah saya harus tertawa juga? Sesuatu yang terasa kurang pas jika saya ikut tertawa.
Lyosha berasal dari Buryatia, sebuah desa terpencil di Siberia timur, daerah dengan banyak penduduk miskin dan banyak yang ketagihan minuman keras. Inilah salah satu latar belakang di balik nasib tragisnya.
Pada 2005, setelah perayaan tahun baru, sang ayah, dalam keadaan mabuk, melempar dua anak kecilnya ke bara api kayu.
Bayi yang berumur 14 bulan terbakar sampai meninggal sementara Lyosha, yang berumur dua tahun, berhasil diselamatkan ibunya.
Mereka melakukan transplantasi kulit, pembedahan, dan rehabilitasi.
"Saya pergi ke Swiss, ke Amerika Syaerikat, Jerman, Peranchis, Lithuania - banyak tempat," katanya. "Semuanya kerana luka terbakar saya. Saya ke rumah sakit dan klinik rehabilitasi."
"Kecacatan dapat memberikan cara baru untuk menyikapi berbagai hal dan sejumlah kemungkinan baru, tetapi yang penting adalah tidak membiarkan kehidupan terpaku pada hal itu, kerana itu akan mematikan," katanya.
"Saya pernah membenci orang lain ketika masih lebih muda," Lyosha mengakui. "Saya merasa mereka memperlakukan saya seperti binatang."
"Pada suatu waktu saya mempelajari psikologi. Itu benar-benar membantu saya memahami berbagai hal. Dan kebencian, menghilang begitu saja, saya membiarkannya hilang."
Dengan berjalannya waktu, penampilan Lyosha tetap mengundang perhatian. "Orang takut terhadap apa yang mereka tidak ketahui, dan mereka kemudian membenci, atau mereka ingin tahu, mereka ingin mengenal."
Sehingga ketika saya menyoal apakah tragedi ini mengubah seluruh kehidupannya, dia hanya mengangkat bahu.
"Ini bukanlah pilihan saya, saya masih anak-anak. Apa yang terjadi, telah terjadi. Jika hasilnya berbeda, saya kemungkinan meninggal atau saya tetap hidup di Buryatia. Itu saja."
Lyosha membuat saya terkejut dan bingung. Dia mentertawakan dirinya dan dunia sekitarnya. Dia tidak berusaha menyalahkan siapapun, dia tidak takut, dia hanya menjalani kehidupannya.
"Saya suka api. Saya suka api unggun. Saya mengetahui bahwa orang-orang korban kebakaran boleh saja takut dengan api. Tetapi saya tidak melihat alasan untuk menjadi takut. Saya menyukai cahaya dan kehangatannya; indah. Saya dapat mengamatinya selamanya."
Lyosha menyukai burung dalam kisah mitos, phoenix, yang membakar dirinya saat mati, untuk kemudian dilahirkan kembali dari abu. Hal ini merupakan simbol kekekalan kehidupan, kemenangan kehidupan atas kematian.
"Saya dapat memahaminya. Saya terbakar saat kanak-kanak. Dalam beberapa hal, saya juga dilahirkan kembali dari abu."
Lyosha tetap terkejut ketika saya menyoalnya apakah dia memaafkan ayahnya. "Ini bukan soal memaafkan. Saya telah memaafkannya sejak lama. Sekarang kami hanya berbual, seperti orang pada umumnya."
"Saya tidak pernah membencinya. Dia kemungkinan berfikir saya membencinya. Tetapi kami bertemu, ketika saya pulang ke Buryatia, kami bercakap-cakap, saya menceritakan semua hal dan sekarang kami saling berkirim surat, tetap berhubungan."
No comments:
Post a Comment