Sebuah
satuan elit pasukan khusus Australia sedang disiasat terkait kes potong mayat paling-tidak seorang pemberontak Afghan.
ABC mendapat
informasi, kedua tangan dipotong dari mayat seorang pemberontak dan
dibawa kembali ke pangkalan Australia di Tarin Kot.
Insiden itu
terjadi dalam operasi gabungan pasukan keselamatan nasional Afghan dan
Satuan Tugas Operasi Khusus Australia di wilayah Zabul pada tanggal 28
April 2013 yang membunuh empat pemberontak.
Waktu itu, Pasukan Pertahanan Australia hanya mengumumkan, penyiasatan sedang dilakukan.
Panglima
Pasukan Pertahanan Australia, Jendral David Hurley, mengatakan dalam
satu statement yang dirilis 8 Mei 2013: "Satu insiden kemungkinan
kelakuan buruk selama operasi telah dikemukakan melalui rantai komando
nasional internal."
ABC mendapat informasi, insiden kelakuan buruk yang dimaksud adalah memotong tangan dari mayat paling-tidak seorang pemberontak.
Tentera Australia diharuskan mengambil cap jari dan scan mata setiap laskar Taliban yang terbunuh, jika memungkinkan.
ABC
mendapat informasi, seorang penyiasat dari Australian Defence Force
Investigative Service (ADFIS) memberi penjelasan kepada sekelompok
pasukan khusus dan memberitahu mereka bahawa tidak masalah bagaimana cap jari diambil. Kalau mereka dapat memotong tangan dari laskar yang
terbunuh dan membawanya kembali ke pangkalan untuk diambil cap jarinya,
itu dapat diterima.
ABC memahami, paling-tidak sepasang tangan ada di pangkalan Australia di Tarin Kot.
Mutilasi atau perlakuan buruk atas mayat merupakan pelanggaran hukum perang.
Dalam
sebuah statement kepada ABC, Pasukan Pertahanan Australia mengatakan,
pihaknya terus menyiasat insiden kemungkinan kelakuan buruk
menyangkut personil Australia.
Sumber: ABC Radio Australia
No comments:
Post a Comment