11/4/16
Tiga pelaut selamat usai terdampar di pulau kosong. ©2016 Merdeka.com/Reuters
Nasib tiga pelaut asal Kepulauan Pulap,
Federasi Mikronesia, ini sangat bertuah. Ahad lalu, akibat badai yang
mengkaramkan kapal mereka, ketiga orang itu terdampar di Pulau Fanadik.
Pulau ini tidak berpenghuni serta terasing di tengah Samudra Pasifik. Laman metro.co.uk melaporkan, pada 11/4/16, ketiganya enggan patah
arang walau sudah terdampar tiga hari tanpa kepastian. Mereka lalu
menuliskan kata-kata 'help' di pasir pantai berukuran raksasa memakai
daun pohon kelapa.
Ternyata, usaha semacam itu berhasil di dunia nyata, tidak hanya
di film-film saja. Kata 'help' ini terbaca oleh pilot pesawat pemantau
Angkatan Laut Amerika Syarikat (US Navy). Usaha penyelamatan kemudian
dilakukan bersama kapal penjaga pantai (Coast Guard). Keluarga sudah
menghubungi otoriti terkait sejak ketiganya tak kunjung pulang dalam
pelayaran yang seharusnya cuma makan waktu sehari itu.
"Usaha bersama melibatkan banyak pihak ini berhasil menyelamatkan
ketiga pelaut itu dari kawasan terpencil di Pasifik," kata Melissa
McKenzie, juru cakap Coast Guard.

Ketiga orang tak disebut detail identitinya itu hendak berlayar ke
Kepulauan Weno dari tempat tinggal mereka di Pulap. Nahas, badai membuat
kapal mereka karam.
Ketiganya memakai jeket keselamatan, memanfaatkan sekoci, lalu akhirnya mencuba bertahan hidup di Fanadik.
"Kemampuan ketiga orang itu untuk bertahan dalam situasi bahaya juga harus kita apresiasi," kata McKenzie.
Insiden semacam ini sering terjadi di kawasan Pasifik, dua minggu
terakhir saja ada 15 nelayan yang terdampar lalu dijemput pasukan SAR. Namun
baru sekarang para pelaut itu berhasil selamat setelah membuat tanda
'help' di tepi pantai.
Sumber: Merdeka.com
No comments:
Post a Comment